Indonews.tv-SURABAYA — Mimpi merupakan pengalaman yang hampir pernah dialami setiap manusia. Ada mimpi yang terasa begitu nyata, ada yang membuat seseorang terbangun dalam keadaan takut, ada pula mimpi yang justru menghadirkan kebahagiaan, bertemu orang yang telah lama tidak dijumpai, mendapatkan keberuntungan, bepergian ke tempat asing, hingga mengalami kejadian yang kemudian membuat seseorang bertanya-tanya: apakah mimpi mempunyai arti atau merupakan pertanda sesuatu yang akan terjadi?
Pertanyaan mengenai arti mimpi sebenarnya bukan persoalan baru. Dalam masyarakat Jawa, mimpi sejak dahulu menjadi bagian dari sistem pengetahuan tradisional yang kemudian banyak dicatat dalam berbagai primbon. Di sisi lain, Islam juga mengenal pembahasan mengenai mimpi atau ru’ya, bahkan terdapat sejumlah hadis Nabi Muhammad SAW yang secara khusus menjelaskan mengenai mimpi baik, mimpi buruk, dan mimpi yang berasal dari pikiran manusia sendiri.
Sementara itu, ilmu psikologi modern melihat mimpi dari sisi berbeda. Mimpi dapat berkaitan dengan pengalaman, emosi, ingatan dan aktivitas otak selama tidur. Penelitian yang dibahas oleh American Psychological Association, misalnya, menunjukkan bahwa unsur yang bersifat emosional lebih mungkin muncul dalam mimpi dibandingkan pengalaman sehari-hari yang bersifat biasa.
Lalu, sebenarnya apa arti mimpi?

Jawabannya dapat berbeda tergantung dari sudut pandang yang digunakan.
Primbon Jawa : Mimpi sebagai Firasat dan Simbol Kehidupan
Dalam kebudayaan Jawa, primbon bukan sekadar buku ramalan mimpi. Primbon merupakan kumpulan pengetahuan tradisional yang mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa.
Kajian mengenai primbon menunjukkan bahwa di dalamnya terdapat pembahasan mengenai hari, pasaran, neptu, kelahiran, perjodohan, perkawinan, berbagai pertanda atau firasat, fenomena alam, hingga tafsir mimpi.
Bahkan penelitian mengenai naskah-naskah primbon menunjukkan bahwa tradisi tersebut memiliki banyak versi dan fungsi. Di lingkungan Surakarta dan Yogyakarta, misalnya, ditemukan beragam jenis primbon dengan isi yang berbeda-beda, mulai dari pengobatan, ramalan, pengaturan aktivitas sehari-hari, perhitungan alam, penanggalan hingga ramalan dan tafsir mimpi.
Artinya, tidak tepat apabila seluruh primbon dianggap sebagai satu kitab tunggal dengan satu standar tafsir yang mutlak.
Primbon lebih tepat dipahami sebagai kumpulan pengetahuan dan kearifan tradisional yang berkembang melalui proses pewarisan budaya.
Mengapa Mimpi Dipercaya Mempunyai Arti ?
Dalam pandangan tradisional Jawa, manusia hidup tidak terpisahkan dari hubungan antara dirinya, alam dan lingkungan.
Karena itu, berbagai kejadian yang dianggap tidak biasa dapat dipandang sebagai sasmita atau tanda. Mimpi menjadi salah satu fenomena yang kemudian ditafsirkan secara simbolik.
Beberapa naskah primbon bahkan secara khusus memuat tafsiran mengenai mimpi dan berbagai alamat atau pertanda. Penelitian terhadap naskah primbon juga menunjukkan bahwa sebagian teks berisi petunjuk mengenai arti mimpi dan fenomena tertentu dalam kehidupan masyarakat.
Dalam tradisi ini, sebuah mimpi tidak selalu dipahami secara harfiah.
Misalnya:
Mimpi melihat air tidak harus berarti seseorang benar-benar akan berhadapan dengan air.
Air dapat dipandang sebagai simbol yang berkaitan dengan kehidupan, keadaan batin, perubahan atau keberuntungan, tergantung konteks mimpi dan tradisi penafsirannya.
Begitu pula mimpi mengenai kematian tidak otomatis berarti seseorang yang dimimpikan akan meninggal.
Inilah salah satu alasan mengapa tafsir mimpi dalam tradisi Jawa harus dipahami sebagai simbol dan interpretasi budaya, bukan sebagai kepastian peristiwa masa depan.
Mimpi Menurut Serat dan Tradisi Jawa
Pembahasan mengenai mimpi juga ditemukan dalam khazanah sastra Jawa.
Salah satu karya penting dalam kebudayaan Jawa adalah Serat Centhini, yang merupakan karya besar yang menghimpun berbagai pengetahuan masyarakat Jawa.
Dalam kajian terhadap tradisi tersebut, mimpi dapat dibedakan ke dalam beberapa kategori atau bentuk pengalaman mimpi. Salah satu pembahasan mengenai Serat Centhini menyebut empat kategori, yaitu kawarsita, kacakrabawa, kadaradasih dan kadarsana.
Hal ini menunjukkan bahwa tradisi Jawa sebenarnya tidak sesederhana:
“Mimpi A berarti B.”
Ada proses pemaknaan yang lebih kompleks di belakangnya.
Contoh Tafsir Mimpi dalam Tradisi Primbon
Dalam masyarakat, sejumlah mimpi kemudian populer dan sering dikaitkan dengan makna tertentu.
Mimpi mendapat uang sering ditafsirkan sebagai simbol datangnya rezeki, tetapi pada tafsir lain dapat dikaitkan dengan tanggung jawab atau perubahan keadaan.
Mimpi kehilangan barang sering dianggap sebagai pertanda kekhawatiran atau kehilangan sesuatu yang berharga.
Mimpi menikah dapat dikaitkan dengan perubahan kehidupan, tanggung jawab atau datangnya fase baru.
Mimpi bertemu orang yang telah meninggal sering dianggap mempunyai makna khusus dalam kepercayaan masyarakat.
Mimpi jatuh sering ditafsirkan sebagai pertanda ketidakstabilan atau kekhawatiran.
Mimpi melihat air dapat mempunyai berbagai makna tergantung kondisi air dalam mimpi.
Mimpi melihat ular dalam tafsir populer sering dikaitkan dengan persoalan hubungan, ancaman, godaan atau perubahan.
Namun, penting dicatat bahwa tafsir-tafsir tersebut bukan fakta ilmiah yang dapat dipastikan berlaku kepada setiap orang. Bahkan antarversi primbon dapat ditemukan perbedaan penafsiran.
Lalu Bagaimana Islam Memandang Mimpi?
Islam mempunyai pembahasan yang jauh lebih spesifik mengenai mimpi.
Dalam hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan dalam Sahih Muslim, mimpi dijelaskan memiliki tiga bentuk.
Pertama, mimpi baik yang merupakan kabar gembira dari Allah.
Kedua, mimpi yang menyedihkan atau menakutkan yang berasal dari setan.
Ketiga, mimpi yang merupakan sesuatu yang berasal dari pikiran atau diri manusia sendiri.
Pembagian ini sangat penting karena menunjukkan bahwa dalam Islam tidak semua mimpi harus dianggap sebagai pesan atau ramalan dari Allah.
Ada mimpi yang memang baik.
Ada mimpi yang mengganggu.
Dan ada pula mimpi yang muncul karena pikiran seseorang sendiri.
Mimpi Baik dalam Islam
Dalam hadis, mimpi yang baik disebut sebagai sesuatu yang berasal dari Allah.
Apabila seseorang mendapatkan mimpi yang menyenangkan, ia diperbolehkan merasa bahagia dan bersyukur.
Namun terdapat pula tuntunan agar mimpi baik tidak diceritakan kepada sembarang orang. Dalam hadis disebutkan agar mimpi baik diceritakan kepada orang yang dicintai atau dipercaya.
Hal tersebut memberikan pelajaran penting:
Mimpi baik tidak harus dijadikan bahan ramalan untuk semua orang.
Lebih baik mengambil sisi positifnya sebagai motivasi, doa dan rasa syukur.
Bagaimana Jika Mimpi Buruk?
Islam juga memberikan tuntunan yang jelas ketika seseorang mengalami mimpi buruk.
Dalam hadis Sahih Muslim disebutkan bahwa apabila seseorang melihat sesuatu yang tidak disukainya dalam mimpi, ia dianjurkan untuk:
1. Memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan mimpi tersebut.
2. Meniup atau meludah ringan ke arah kiri sebanyak tiga kali.
3. Tidak menceritakan mimpi buruk tersebut kepada orang lain.
4. Dalam riwayat lain, seseorang dianjurkan berpindah posisi tidur.
5. Bahkan terdapat hadis yang menyebutkan untuk bangun dan melaksanakan salat.
Dalam Sunan Abu Dawud juga terdapat hadis dengan pesan serupa bahwa mimpi buruk berasal dari setan dan apabila seseorang mengalami mimpi yang tidak disukai, ia dianjurkan berlindung kepada Allah sehingga mimpi tersebut tidak membahayakannya.
Dengan demikian, dalam perspektif Islam, mimpi buruk tidak perlu ditakuti sebagai kepastian bahwa kejadian buruk akan terjadi.
Apakah Semua Mimpi Merupakan Petunjuk Allah?
Tidak.
Ini salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi.
Hadis Nabi secara jelas membagi mimpi menjadi tiga kategori. Salah satunya bahkan disebut sebagai sesuatu yang berasal dari pikiran manusia sendiri.
Seseorang yang sepanjang hari memikirkan pekerjaan, misalnya, sangat mungkin membawa persoalan tersebut ke dalam tidurnya.
Orang yang sedang merindukan seseorang juga dapat bermimpi bertemu orang tersebut.
Seseorang yang takut kehilangan pekerjaan dapat bermimpi kehilangan pekerjaannya.
Dengan demikian, tidak setiap mimpi harus dicari makna gaibnya.
Mimpi dan Pikiran Manusia
Dalam perspektif psikologi, mimpi dapat mempunyai hubungan dengan pengalaman emosional seseorang.
Penelitian yang dibahas oleh American Psychological Association menunjukkan bahwa pengalaman yang memiliki muatan emosional cenderung lebih sering masuk ke dalam mimpi dibandingkan aktivitas yang biasa-biasa saja. Baik emosi positif maupun negatif dapat muncul dalam mimpi.
Karena itu, seseorang yang sedang:
• jatuh cinta,
• mengalami konflik,
• takut kehilangan seseorang,
• menghadapi tekanan pekerjaan,
• sedang berduka,
• memikirkan masalah keuangan,
• atau sedang menghadapi perubahan besar,
dapat mengalami mimpi yang berkaitan dengan persoalan tersebut.
Dalam konteks ini, mimpi dapat menjadi semacam cermin dari pengalaman dan emosi seseorang, meskipun tidak berarti setiap simbol mimpi mempunyai arti psikologis yang sama bagi semua orang.
Perbedaan Primbon dan Islam
Jika dibandingkan, terdapat perbedaan mendasar.
Aspek Primbon Jawa Islam
Dasar Tradisi dan kearifan budaya Jawa Al-Qur’an, hadis dan penjelasan ulama
Mimpi Dapat dipandang sebagai firasat/simbol Tidak semua mimpi merupakan petunjuk
Tafsir Banyak simbol dan variasi Ada mimpi baik, buruk dan dari pikiran sendiri
Kepastian masa depan Tidak dapat dipastikan Mimpi bukan dasar untuk memastikan takdir
Mimpi buruk Dapat dianggap sebagai pertanda Dianjurkan berlindung kepada Allah
Mimpi baik Bisa ditafsirkan sebagai pertanda Boleh disyukuri dan diceritakan kepada orang yang dipercaya
Fungsi Kearifan tradisional Bagian dari pembahasan spiritual dalam Islam
Apakah Primbon Bertentangan dengan Islam?
Jawabannya membutuhkan kehati-hatian.
Primbon sebagai warisan budaya dapat dipelajari sebagai bagian dari sejarah, sastra, antropologi dan kebudayaan Jawa.
Kajian akademik bahkan menunjukkan bahwa primbon merupakan salah satu bentuk pengetahuan lokal yang berkembang dalam masyarakat Jawa dan mempunyai banyak fungsi.
Masalah muncul ketika tafsir primbon diyakini sebagai kepastian gaib mengenai masa depan.
Dalam perspektif Islam, perkara gaib pada hakikatnya berada dalam pengetahuan Allah. Oleh karena itu, seorang Muslim sebaiknya tidak menjadikan primbon sebagai sumber kepastian mengenai nasib, jodoh, rezeki, kematian atau masa depan.
Dengan kata lain:
mempelajari primbon sebagai budaya berbeda dengan meyakini seluruh ramalannya sebagai kepastian gaib.
Mengapa Orang Sering Merasa Ramalan Mimpi “Benar”?
Ada fenomena psikologis yang menarik.
Misalnya seseorang bermimpi akan bertemu orang lama. Beberapa hari kemudian ia benar-benar bertemu orang tersebut.
Ia kemudian merasa:
“Ternyata mimpi saya benar.”
Padahal kemungkinan pertemuan itu memang sudah ada sebelumnya. Orang tersebut mungkin tinggal di kota yang sama, berada dalam lingkungan sosial yang sama atau mempunyai kemungkinan bertemu yang cukup besar.
Ada pula kecenderungan manusia untuk lebih mengingat kejadian yang sesuai dengan ramalan dibandingkan kejadian yang tidak sesuai.
Misalnya seseorang membaca 20 tafsir mimpi dan hanya satu yang terasa cocok. Yang satu itu kemudian diingat, sementara 19 lainnya dilupakan.
Fenomena seperti ini dapat membuat sebuah ramalan terasa jauh lebih akurat daripada kenyataannya.
Jangan Mengambil Keputusan Besar Hanya Berdasarkan Mimpi
Ini menjadi bagian yang sangat penting.
Mimpi sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan besar, misalnya:
• menikah,
• bercerai,
• membeli atau menjual rumah,
• menjalankan bisnis,
• memberikan uang kepada seseorang,
• menuduh seseorang,
• memutus hubungan,
• mengambil keputusan hukum,
• atau menganggap seseorang akan meninggal.
Mimpi boleh menjadi bahan refleksi pribadi.
Tetapi keputusan kehidupan nyata sebaiknya didasarkan pada fakta, pertimbangan rasional, doa, musyawarah dan pertimbangan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Mengapa Mimpi tentang Orang yang Sudah Meninggal Terasa Sangat Nyata?
Ini merupakan salah satu jenis mimpi yang paling sering menimbulkan pertanyaan.
Seseorang yang sedang merindukan orang tua, pasangan, sahabat atau anggota keluarga yang telah meninggal dapat bermimpi bertemu dengannya.
Bagi orang yang mengalami mimpi tersebut, perasaan yang muncul bisa sangat kuat.
Dalam tradisi masyarakat, mimpi seperti itu sering diberikan makna spiritual.
Sementara secara psikologis, kenangan emosional yang sangat kuat juga dapat muncul dalam mimpi. Penelitian mengenai mimpi menunjukkan bahwa pengalaman yang memiliki muatan emosional lebih mungkin masuk ke dalam mimpi.
Dalam Islam sendiri, seseorang tidak boleh sembarangan memastikan bahwa setiap kemunculan orang yang telah meninggal dalam mimpi berarti roh orang tersebut benar-benar datang.
Sikap yang lebih aman adalah mendoakan orang yang telah meninggal, mengambil hikmah dari mimpi tersebut dan tidak membuat klaim tentang perkara gaib tanpa dasar.
Mimpi Melihat Kematian Tidak Selalu Berarti Kematian
Ini juga merupakan salah satu mitos yang banyak berkembang.
Seseorang dapat bermimpi dirinya meninggal.
Atau bermimpi orang tuanya meninggal.
Atau bermimpi temannya meninggal.
Tidak berarti mimpi tersebut merupakan pemberitahuan bahwa orang tersebut akan meninggal.
Dalam tafsir tradisional, kematian bahkan kadang dimaknai sebagai perubahan, berakhirnya suatu fase dan dimulainya kehidupan baru.
Namun kembali lagi, tafsir tersebut merupakan interpretasi budaya dan tidak boleh dianggap sebagai kepastian.
Mimpi sebagai Bahasa Simbol
Jika dilihat secara lebih luas, manusia memang sering menggunakan simbol untuk memahami pengalaman.
Rumah dapat diasosiasikan dengan keluarga.
Jalan dapat diasosiasikan dengan perjalanan hidup.
Air dapat diasosiasikan dengan emosi.
Kehilangan dapat diasosiasikan dengan rasa takut.
Pertemuan dapat diasosiasikan dengan kerinduan.
Tetapi simbol tersebut tidak mempunyai arti universal yang otomatis berlaku bagi setiap manusia.
Orang yang berbeda dapat memimpikan simbol yang sama tetapi mempunyai makna psikologis dan pengalaman yang berbeda.
Antara “Ramalan” dan “Refleksi”
Di sinilah masyarakat perlu membedakan dua hal.
Ramalan mengatakan:
“Ini pasti akan terjadi.”
Sedangkan refleksi mengatakan:
“Mimpi ini mungkin membuat saya berpikir tentang sesuatu.”
Pendekatan kedua jauh lebih aman.
Misalnya seseorang bermimpi kehilangan pekerjaan.
Daripada langsung percaya bahwa dirinya akan kehilangan pekerjaan, ia dapat bertanya:
“Mengapa saya takut kehilangan pekerjaan?”
Mungkin ternyata ia sedang mengalami tekanan.
Mungkin pekerjaannya memang tidak aman.
Mungkin ia sedang memikirkan masa depan.
Mimpi kemudian menjadi kesempatan untuk melakukan introspeksi.
Primbon sebagai Warisan Budaya
Terlepas dari persoalan benar atau salahnya ramalan, primbon mempunyai nilai penting sebagai bagian dari kebudayaan Nusantara.
Kajian kebudayaan menunjukkan bahwa primbon merupakan salah satu bentuk pengetahuan lokal Jawa yang diwariskan dari generasi ke generasi. Isinya bukan hanya ramalan, tetapi juga berbagai pengetahuan tentang kehidupan masyarakat.
Bahkan pemerintah melalui basis data Warisan Budaya mencatat sejumlah karya budaya berupa kitab primbon. Salah satunya adalah Kitab Primbon Haji Syekh Imam Tabbri Sragen, yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2022.
Karena itu, primbon dapat dipandang sebagai dokumen kebudayaan dan cara leluhur memahami dunia, meskipun masyarakat modern tetap perlu membedakan antara nilai budaya dengan klaim ilmiah atau kepastian mengenai masa depan.
Kesimpulan: Mimpi Tidak Selalu Harus Ditakuti
Pada akhirnya, mimpi berada di antara berbagai cara manusia memahami dirinya.
Dalam tradisi Jawa, mimpi dapat dipandang sebagai simbol, firasat atau bagian dari sasmita yang kemudian ditafsirkan melalui pengetahuan primbon.
Dalam Islam, mimpi memiliki kedudukan yang lebih spesifik. Hadis Nabi menyebut adanya tiga jenis mimpi: mimpi baik sebagai kabar gembira, mimpi buruk yang mengganggu, dan mimpi yang berasal dari pikiran manusia sendiri.
Dalam psikologi modern, mimpi dapat berhubungan dengan pengalaman, ingatan dan terutama pengalaman yang mempunyai muatan emosional.
Ketiga pendekatan tersebut tidak harus dipertentangkan.
Primbon dapat dipelajari sebagai warisan budaya.
Ajaran Islam menjadi pedoman bagi umat Islam dalam menyikapi mimpi.
Ilmu psikologi membantu memahami proses mimpi dari sisi manusia dan aktivitas mental.
Yang perlu dihindari adalah menjadikan mimpi sebagai kepastian mengenai masa depan.
Sebab mimpi boleh menjadi pengalaman yang bermakna, tetapi masa depan bukan sesuatu yang dapat dipastikan hanya berdasarkan mimpi.
Dan sebagaimana tuntunan Nabi Muhammad SAW terhadap mimpi buruk, seseorang tidak perlu hidup dalam ketakutan hanya karena mengalami mimpi yang tidak menyenangkan. Memohon perlindungan kepada Allah, tidak menyebarkannya, dan melanjutkan kehidupan dengan tenang merupakan sikap yang justru dianjurkan dalam hadis.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan terpenting bukan “Apa yang akan terjadi karena mimpi saya?”, melainkan “Apa yang dapat saya pelajari dari mimpi tersebut tentang diri saya?”
Catatan sumber
Artikel ini membedakan sumber budaya, sumber keagamaan, dan sumber psikologi. Untuk bagian Islam, rujukan utama adalah hadis dalam Sahih Muslim dan Sunan Abu Dawud. Untuk bagian budaya Jawa digunakan kajian akademik mengenai naskah dan tradisi primbon, sedangkan bagian psikologi merujuk pada pembahasan American Psychological Association mengenai hubungan emosi dan mimpi. (berbagai-sumber)


