Pelaku Bullying berinisial ML, siswa kelas 9 SMP di Cimanggu, Pendapat Psikolog Eva Nur Rachmah seperti ini !

Indonews.tv – Kami Himpun dari berbagai sumber, kali ini terjadi lagi perlakuan bullying terhadap seseorang (ini anak SMP kepada anak SMP), dan baru saja adem berita tentang anak SD di Gresik yang dicolok Matanya pakai tusuk sate oleh kakak tingkatnya, kini muncul baru berita senada, sebagai orang tua Korban tentunya kita merasa geram, marah, ngenes, pilu dan mungkin masih banyak kata-kata, dan yang menjadi pertanyaan jika anda sebagai orang tua pelaku ? apakah hal yang sama perasaan yang anda rasakan ? atau anda juga merasa sebagai orang tua pelaku mungkin saja lalai, atau kecolongan tentang perilaku anak anda ! atau itu merupakan gambaran diri anda sebagai orang tua yang mungkin ditiru oleh anak anda (impersonator dari impersonate), dalam kenyataanya anak akan menjadi peniru nomor satu perilaku orang tua.
Coba anda perhatikan, gaya bicara anak anda, gaya perilaku anak anda akan sangat mirip dengan
Menyikapi peristiwa yang terjadi pada video viral yang menggambarkan aksi siswa SMP di Cilacap yang tengah menghajar temannya. Aksi ini mirip film laga karena pelaku memukul, menendang korban berulang kali, dengan wajah yang dingin sekaligus disaksikan banyak temannya yang lain, Psikolog serta Dekan Fakultas Psikologi universitas 45 Surabaya. Eva Nur Rachmah S. Psi., M. Psi., Psikolog, memberikan keterangan secara daring tertulis kepada team indonews.tv
Bullying pada anak adalah perilaku agresif yang terjadi secara berulang-ulang dan disengaja oleh satu atau lebih individu terhadap anak lain yang lebih lemah atau rentan.
Perilaku bullying pada anak bisa dilihat dari berbagai aspek psikologi, termasuk faktor-faktor yang mendorong anak untuk menjadi pelaku bullying. Berikut adalah beberapa aspek psikologis yang terkait dengan perilaku bullying pada anak:

Eva Nur Rachmah
  1. Kurangnya Empati: Salah satu faktor utama yang dapat mendorong anak untuk menjadi pelaku bullying adalah kurangnya kemampuan untuk merasakan empati terhadap perasaan dan pengalaman orang lain. Anak-anak yang tidak memiliki empati cenderung kurang peduli terhadap dampak buruk yang mereka berikan kepada korban.
  2. Kurangnya Pemahaman Emosi: Anak-anak yang tidak memahami emosi dengan baik mungkin sulit mengelola emosi mereka sendiri dan mengidentifikasi emosi pada orang lain. Ini dapat membuat mereka merasa terasing atau marah terhadap teman sebaya mereka.
  3. Dorongan untuk Mengontrol atau Mendominasi: Beberapa anak menjadi pelaku bullying karena dorongan untuk mengendalikan atau mendominasi orang lain. Mereka mungkin merasa lebih kuat atau berkuasa saat mereka mengejek atau membully orang lain.
  4. Dorongan untuk Diterima oleh Teman Sebaya: Beberapa anak mungkin terlibat dalam perilaku bullying untuk mendapatkan perhatian atau diterima oleh kelompok teman sebaya mereka. Mereka mungkin berpikir bahwa dengan melakukan bullying, mereka akan menjadi lebih populer atau dihormati oleh teman-teman mereka.
  5. Pengaruh Lingkungan: Faktor lingkungan seperti pengaruh dari keluarga, teman sebaya, dan media juga dapat memainkan peran dalam perilaku bullying. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan di mana perilaku agresif atau merendahkan orang lain dianggap normal mungkin lebih cenderung untuk terlibat dalam bullying.
  6. Gangguan Mental: Beberapa anak yang terlibat dalam bullying mungkin memiliki gangguan mental tertentu, seperti gangguan perilaku atau gangguan kepribadian, yang mempengaruhi cara mereka berinteraksi dengan orang lain.
  7. Kurangnya Pengawasan Orang Tua: Anak-anak yang tidak mendapatkan pengawasan atau bimbingan yang cukup dari orang tua mungkin lebih cenderung terlibat dalam perilaku bullying.

Penting untuk diingat bahwa setiap anak yang terlibat dalam perilaku bullying memiliki latar belakang dan motivasi yang berbeda. Untuk mencegah perilaku bullying, penting untuk mendekati masalah ini secara holistik dengan mengedukasi anak-anak tentang empati, mempromosikan iklim sekolah yang aman dan inklusif, serta memberikan dukungan psikologis jika diperlukan baik untuk pelaku maupun korban. Selain itu, peran orang tua, guru, dan konselor sangat penting dalam mendeteksi dan mengatasi perilaku bullying pada anak. (@bramantyo.Red)

Related Posts

About The Author

kirim pesan
Tanyakan untuk bisa diliput indonews.tv
TANYAKAN DISINI JIKA TEMPAT ANDA INGIN DIPROMOSIKAN KE INDONEWS.TV (TELEVISi ONLINE MASA KINI)