KETIKA YANG DULU TABU KINI DIANGGAP BIASA
“Kebenaran Baru” di Era Media Sosial: Perubahan Zaman atau Keblingeran Moral?
Oleh : Hayomi Gunawan (Motivator,Pemerhati Perilaku Sosial, Dosen Perilaku Bisnis UBAYA)
SURABAYA —INDONEWS.TV – Sengaja penulis menekankan kejelasan yang “Straight to the point” agar jelas apa yang penulis maksud, hal ini seperti menjadi kebiasaan pembaca masa kini, yang kebanyakan hanya membaca depannya saja dan perihal belakangnya diabaikan.
Ada fenomena menarik yang berkembang di tengah masyarakat modern. Sejumlah perilaku yang dahulu dianggap tidak pantas, memalukan, bahkan tabu, kini perlahan tampil di ruang publik dan media sosial sebagai sesuatu yang dianggap biasa, lumrah, bahkan layak dibanggakan.
Ukuran penerimaan masyarakat pun mengalami perubahan.
Dulu seseorang mungkin bertanya:
“Apakah ini pantas dilakukan?”
Kini pertanyaannya bisa berubah menjadi :
“Kalau banyak yang melakukan, kenapa tidak?”
Bahkan muncul ukuran baru :
“Kalau videonya viral dan ditonton jutaan orang, berarti masyarakat menerimanya.”
Di sinilah persoalan sebenarnya dimulai.
Bukan sekadar perubahan generasi
Perubahan perilaku sebenarnya merupakan sesuatu yang wajar dalam perjalanan masyarakat. Nilai, gaya hidup, cara berkomunikasi, cara berpakaian, hingga cara membangun hubungan sosial memang dapat berubah mengikuti perkembangan zaman.
Namun persoalannya menjadi lebih serius ketika jumlah penonton, jumlah like, komentar, dan viralitas mulai digunakan sebagai ukuran benar-salah atau pantas-tidak pantas.
Penelitian dalam psikologi sosial menunjukkan bahwa media sosial dapat membuat persepsi seseorang terhadap norma menjadi terdistorsi. Lingkungan daring dapat menciptakan kesan seolah-olah perilaku tertentu jauh lebih umum atau lebih diterima daripada kenyataannya di kehidupan offline. Fenomena ini antara lain dikaitkan dengan false perceptions of social norms atau pluralistic ignorance. (dia sendiri yang gak setuju dan bisa gugur karena banyak orang menerimanya)
Artinya, yang viral belum tentu merupakan representasi nilai mayoritas masyarakat.
DARI “TABU” MENJADI “NORMAL”
Dalam ilmu sosial, perubahan seperti ini dapat dipahami sebagai pergeseran norma sosial (social norm shift).
Sebuah perilaku yang awalnya dianggap menyimpang dapat perlahan memperoleh penerimaan ketika masyarakat semakin sering melihatnya. Bisa kita lihat pada era pertama tama kali orang Indonesia berhijab, mereka masih sangat menjaga marwahnya hijab, yang tidak melekat di badan, warnanya lebih yang soft dan pemakainya dituntut untuk bersikpa sopan dan proporsional ala hijab. Tapi sekarang ini hijab banyak perubahan, yg dulu tidak berwarna, sekarang berwarna warni, yang dulu gombrong sekarang ada yg lengket di tubuh (biarpun itu menyalahi, tetapi krn banyak yg suka jadi membuat pergeseran aturan bentuk hijabnya)
Prosesnya kira-kira seperti ini:
Awalnya:
“Tidak pantas.”
↓
Kemudian:
“Sudah banyak yang melakukan.”
↓
Berikutnya:
“Biasa saja.”
↓
Akhirnya:
“Kenapa dipermasalahkan?”
Inilah yang dapat disebut sebagai normalisasi perilaku.
Masalahnya, proses normalisasi tidak selalu berarti bahwa perilaku tersebut secara moral menjadi benar. Ia hanya menunjukkan bahwa masyarakat mulai terbiasa melihatnya.
Terbiasa melihat sesuatu tidak otomatis berarti sesuatu tersebut benar.
KETIKA LIKE DAN VIEW MENJADI “HAKIM SOSIAL”
Banyak yang like dan viewernya berjibun maka dianggap boleh. Media sosial mempunyai mekanisme yang sangat kuat: penguatan melalui perhatian.
Konten yang mendapatkan banyak perhatian cenderung memperoleh distribusi yang lebih besar. Akibatnya, pembuat konten mempunyai insentif untuk membuat sesuatu yang semakin menarik perhatian.
Kajian psikologi tentang media sosial dan moralitas menunjukkan bahwa platform digital dapat memperkuat perilaku yang memancing emosi, pencarian status, konflik antarkelompok maupun kemarahan moral. Namun mekanisme yang sama juga dapat memperkuat perilaku positif dan solidaritas sosial.
Maka muncul logika baru:
“Yang penting viral.”
Padahal:
viral ≠ benar
banyak like ≠ bermoral
banyak viewer ≠ pantas ditiru
banyak yang melakukan ≠ otomatis benar
Ini merupakan salah satu tantangan terbesar masyarakat digital.
ISTILAH PSIKOLOGINYA APA?
Ada beberapa konsep psikologi sosial yang dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena tersebut.
1. Social Proof
Social proof adalah kecenderungan manusia menjadikan perilaku orang lain sebagai petunjuk tentang apa yang dianggap benar atau pantas.
Sederhananya:
“Kalau banyak orang melakukan, mungkin itu memang boleh.”
Dalam dunia digital, indikatornya menjadi:
like – follower – viewer – komentar – trending.
Semakin tinggi angka tersebut, semakin kuat persepsi bahwa perilaku tersebut diterima.
2. Social Conformity
Ini adalah kecenderungan seseorang menyesuaikan perilakunya dengan kelompok.
Seseorang mungkin sebenarnya tidak setuju dengan suatu perilaku, tetapi ketika melihat hampir semua orang melakukannya, ia akhirnya ikut.
Penelitian mengenai konformitas moral bahkan menemukan bahwa penilaian moral seseorang dapat berubah ketika berada di bawah tekanan kelompok.
3. Normalization
Perilaku yang berulang-ulang dilihat dapat kehilangan efek “anehnya”.
Dulu:
“Kok berani melakukan begitu?”
Lama-lama:
“Oh, sekarang memang banyak yang begitu.”
Pada tahap tertentu:
“Memangnya salah?”
Inilah normalisasi.
4. Online Disinhibition
Dunia maya juga dapat membuat seseorang lebih berani melakukan atau mengatakan sesuatu yang mungkin tidak akan dilakukan ketika berhadapan langsung.
Kondisi ini dikenal dalam literatur sebagai online disinhibition.
Anonimitas, jarak psikologis, dan tidak adanya kontak langsung dapat mengurangi hambatan sosial tertentu. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa online disinhibition bukanlah satu mekanisme tunggal, melainkan dipengaruhi berbagai faktor motivasional dan situasional.
5. Moral Disengagement
Ada pula konsep moral disengagement, yaitu mekanisme psikologis ketika seseorang mencari pembenaran agar perilaku yang sebenarnya bertentangan dengan nilai tertentu terasa dapat diterima.
Contohnya:
“Semua orang juga melakukan.”
“Tidak ada yang dirugikan.”
“Cuma konten.”
“Ini zaman sudah berubah.”
Kalimat-kalimat tersebut dapat menjadi mekanisme pembenaran terhadap perilaku.
simak “APAKAH INI “KEBLINGERAN ZAMAN”?”edisi selanjutnya


