fajar*Oleh: Fadjar Budianto
Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia kembali mengibarkan Merah Putih. Lagu Indonesia Raya berkumandang, upacara digelar, pidato-pidato kebangsaan disampaikan, dan berbagai perlombaan memeriahkan peringatan kemerdekaan.
Tahun ini, 81 tahun sudah Indonesia berdiri sebagai negara merdeka.
Namun di balik kemeriahan peringatan tersebut, ada pertanyaan yang seharusnya lebih sering kita ajukan: setelah 81 tahun merdeka, apakah semangat kejuangan bangsa Indonesia masih menyala, atau perlahan mulai kehilangan maknanya?
Pertanyaan ini bukan untuk meragukan nasionalisme bangsa Indonesia. Justru sebaliknya, pertanyaan ini diperlukan agar kemerdekaan tidak berhenti sebagai rutinitas tahunan.
Sebab kemerdekaan yang hanya diperingati tetapi tidak dihayati akan kehilangan ruhnya.
Kemerdekaan yang Dibayar dengan Pengorbanan
Kemerdekaan Indonesia tidak lahir dari ruang konferensi yang nyaman. Ia lahir dari perjuangan panjang, pengorbanan, penderitaan dan keberanian.
Para pendahulu bangsa tidak memiliki kemewahan seperti yang kita nikmati hari ini. Mereka tidak memiliki teknologi komunikasi yang mampu menghubungkan dunia dalam hitungan detik. Mereka tidak memiliki berbagai fasilitas kehidupan modern.
Tetapi mereka memiliki sesuatu yang sangat mahal: keberanian untuk berkorban demi masa depan bangsa.
Mereka rela kehilangan harta, keluarga, jabatan, bahkan nyawa demi sebuah cita-cita: Indonesia yang merdeka.
Karena itu, pertanyaan penting bagi generasi sekarang bukan sekadar apakah kita masih hafal nama-nama pahlawan, tetapi apakah kita masih memiliki nilai-nilai perjuangan yang dahulu mereka wariskan.
Sebab bangsa tidak akan kehilangan kemerdekaannya hanya karena tidak lagi mengangkat senjata. Bangsa juga dapat kehilangan makna kemerdekaan ketika rakyatnya kehilangan rasa tanggung jawab terhadap negaranya.
Musuh Bangsa Telah Berubah
Para pejuang kemerdekaan menghadapi penjajahan yang nyata. Musuh datang dengan senjata dan kekuatan militer.
Generasi sekarang menghadapi bentuk ancaman yang jauh lebih halus.
Kita menghadapi korupsi, narkoba, intoleransi, hoaks, disinformasi, politik identitas, kesenjangan sosial, rendahnya literasi, degradasi moral, hingga budaya konsumtif yang berlebihan.
Bahkan teknologi yang seharusnya menjadi alat kemajuan dapat berubah menjadi instrumen yang memecah belah masyarakat apabila digunakan tanpa tanggung jawab.
Media sosial memungkinkan informasi menyebar dalam hitungan detik. Sayangnya, kebohongan juga dapat menyebar dengan kecepatan yang sama.
Di sinilah semangat kejuangan diuji.
Apakah kita menggunakan kemajuan teknologi untuk mencerdaskan bangsa atau justru ikut menyebarkan kebencian?
Apakah kebebasan berpendapat kita gunakan untuk membangun demokrasi atau untuk saling merendahkan?
Apakah perbedaan kita jadikan kekuatan atau justru menjadi alasan untuk terpecah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bentuk baru dari perjuangan kebangsaan.
Nasionalisme Jangan Berhenti di Upacara
Ada kecenderungan menarik dalam kehidupan kita: nasionalisme sering kali sangat kuat ketika bulan Agustus tiba.
Bendera dipasang. Lagu perjuangan dinyanyikan. Upacara dilakukan. Pakaian bernuansa merah putih dikenakan.
Semua itu baik.
Tetapi nasionalisme sejatinya tidak boleh berhenti pada simbol.
Nasionalisme harus hadir ketika seorang pejabat menolak korupsi.
Nasionalisme hadir ketika seorang guru mengajar dengan penuh tanggung jawab.
Nasionalisme hadir ketika seorang mahasiswa belajar dan menghasilkan karya.
Nasionalisme hadir ketika pengusaha membuka lapangan kerja.
Nasionalisme hadir ketika aparat menjalankan tugas secara profesional.
Nasionalisme hadir ketika masyarakat menghormati hukum dan menjaga lingkungan.
Dan nasionalisme hadir ketika seorang warga negara tetap menjaga persaudaraan meskipun berbeda pilihan politik.
Dengan kata lain, cinta tanah air harus dibuktikan melalui tindakan, bukan hanya diucapkan melalui slogan.
Ketika Individualisme Mengalahkan Gotong Royong
Salah satu tantangan kebangsaan kita adalah semakin kuatnya kecenderungan individualisme.
Perkembangan zaman memang membuat manusia semakin mandiri. Tetapi kemandirian tidak boleh menghilangkan gotong royong.
Bangsa Indonesia memiliki modal sosial yang sangat besar: kebersamaan.
Gotong royong adalah salah satu kekuatan yang memungkinkan bangsa ini bertahan dalam berbagai krisis.
Namun budaya tersebut menghadapi tantangan ketika keberhasilan seseorang hanya diukur dari kekayaan, jabatan, popularitas, dan jumlah pengikut di media sosial.
Kita perlu bertanya: apakah kemajuan pribadi selalu berarti kemajuan bangsa?
Belum tentu.
Seseorang dapat menjadi kaya tetapi tidak peduli terhadap lingkungannya. Seseorang dapat memiliki jabatan tetapi menyalahgunakan kekuasaan. Seseorang dapat memiliki jutaan pengikut tetapi menyebarkan informasi yang memecah belah.
Karena itu, ukuran keberhasilan bangsa tidak cukup hanya dengan pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi. Kita juga harus mengukur kualitas karakter, integritas, solidaritas, dan kepedulian sosial masyarakatnya.
Generasi Muda dan Masa Depan Indonesia
Pertaruhan terbesar Indonesia sesungguhnya berada pada generasi muda.
Mereka akan menerima Indonesia dalam kondisi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka menghadapi dunia yang semakin terbuka dan kompetitif.
Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan manusia yang pintar secara akademik.
Pendidikan harus melahirkan manusia yang cerdas, berkarakter, disiplin, memiliki integritas, mampu bekerja sama, dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap bangsa.
Di sinilah pentingnya pendidikan wawasan kebangsaan.
Wawasan kebangsaan bukan indoktrinasi. Ia adalah upaya membangun kesadaran bahwa Indonesia adalah rumah bersama.
Pendidikan sejarah juga tidak boleh sekadar membuat peserta didik hafal tanggal dan nama tokoh.
Sejarah harus mampu menjawab pertanyaan:
Mengapa para pendahulu kita berjuang?
Nilai apa yang mereka perjuangkan?
Apa yang harus dilakukan generasi sekarang untuk melanjutkan perjuangan tersebut?
Jika pertanyaan-pertanyaan itu berhasil dijawab, maka pendidikan sejarah tidak hanya menjadi pelajaran masa lalu, tetapi menjadi energi untuk membangun masa depan.
Dari “Apa yang Negara Berikan?” Menjadi “Apa yang Saya Berikan?”
Mungkin sudah waktunya kita mengubah cara pandang.
Terlalu lama sebagian dari kita memandang kemerdekaan dari perspektif hak: apa yang negara berikan kepada saya?
Padahal kemerdekaan juga berbicara tentang kewajiban: apa yang dapat saya berikan kepada negara?
Pertanyaan tersebut harus menjadi bagian dari kesadaran kebangsaan.
Tidak semua orang harus menjadi pahlawan dalam arti historis. Tetapi setiap orang dapat menjadi pejuang dalam profesinya.
Guru adalah pejuang di dunia pendidikan.
Petani adalah pejuang ketahanan pangan.
Pengusaha adalah pejuang ekonomi.
Tenaga kesehatan adalah pejuang kemanusiaan.
Aparat negara adalah pejuang dalam menjaga ketertiban dan pelayanan publik.
Pelajar dan mahasiswa adalah pejuang masa depan.
Dan masyarakat adalah kekuatan utama dalam menjaga persatuan bangsa.
Perjuangan tidak pernah berhenti. Ia hanya berganti bentuk.
81 Tahun: Jangan Sampai Merdeka Secara Politik, tetapi Belum Merdeka dalam Pikiran
Ada satu persoalan yang lebih mendasar: apakah kita benar-benar sudah merdeka dalam berpikir?
Kemerdekaan sejati menuntut manusia yang mampu berpikir kritis, tetapi tetap bertanggung jawab.
Kita harus mampu menerima perbedaan tanpa membenci.
Mampu mengkritik tanpa menghina.
Mampu berbeda pilihan tanpa memutus persaudaraan.
Mampu menggunakan teknologi tanpa menjadi budaknya.
Mampu menerima budaya global tanpa kehilangan identitas nasional.
Dan yang paling penting, mampu menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan.
Jika hal tersebut belum sepenuhnya kita miliki, maka perjuangan kemerdekaan dalam arti yang lebih luas masih harus terus dilakukan.
Semangat Kejuangan Tidak Pudar, tetapi Harus Dihidupkan
Lalu, apakah semangat kejuangan bangsa Indonesia telah pudar?
Saya memilih untuk menjawab: belum pudar, tetapi sedang menghadapi ujian zaman.
Semangat itu masih terlihat pada anak-anak muda yang berprestasi, guru yang mengabdi di berbagai daerah, mahasiswa yang menghasilkan inovasi, pekerja yang bekerja dengan jujur, masyarakat yang bergotong royong membantu sesama, serta mereka yang terus berusaha memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa.
Namun api perjuangan itu tidak boleh dibiarkan mengecil.
Ia harus dirawat melalui pendidikan.
Dikuatkan melalui keteladanan.
Dihidupkan melalui kebudayaan.
Dan diwujudkan melalui tindakan nyata.
Karena nasionalisme tanpa tindakan hanyalah slogan.
Pancasila tanpa pengamalan hanyalah hafalan.
Kemerdekaan tanpa tanggung jawab hanyalah kebanggaan masa lalu.
Menjaga Kemerdekaan adalah Perjuangan Kita
81 tahun Indonesia merdeka seharusnya tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang masa lalu. Ia harus menjadi momentum untuk mengevaluasi masa kini dan menyiapkan masa depan.
Para pahlawan telah menyelesaikan satu tahap perjuangan: merebut kemerdekaan.
Tugas kita adalah menyelesaikan tahap perjuangan berikutnya: mengisi, menjaga, dan menguatkan kemerdekaan.
Mereka berjuang dengan senjata yang mereka miliki.
Kita berjuang dengan ilmu, integritas, profesionalisme, teknologi, kerja keras, persatuan, dan pengabdian.
Mereka mempertaruhkan nyawa untuk Indonesia.
Kita harus mempertaruhkan waktu, tenaga, pikiran, dan kemampuan untuk Indonesia.
Maka pada peringatan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ini, mari kita tidak hanya bertanya apakah semangat kejuangan masih relevan.
Jawabannya jelas: sangat relevan.
Yang berubah bukan nilai perjuangannya, melainkan medan perjuangannya.
Dan tantangan kita hari ini adalah memastikan bahwa semangat yang dahulu mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan tidak berhenti sebagai cerita sejarah.
Sebab Indonesia tidak kekurangan orang yang mencintai negeri ini. Yang kita perlukan adalah semakin banyak orang yang membuktikan kecintaannya melalui kerja nyata.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka bukan berarti perjuangan selesai. Merdeka berarti kita diberi kesempatan untuk melanjutkan perjuangan.
Indonesia maju, Indonesia kuat, Indonesia bersatu.
* Dosen Universitas 45 Surabaya
81 Tahun Indonesia Merdeka: Ketika Semangat Kejuangan Diuji Zaman
|
11/08/2026 |


