INDONEWS.TV, JEMBER — Nama Letnan Kolonel Moh. Seruji, yang juga dikenal dengan ejaan Moh. Sroedji atau Mochammad Sroedji, menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di wilayah Jember, Jawa Timur.
Ia bukan sekadar seorang tentara, melainkan pemimpin perjuangan yang memilih bertahan di tengah ancaman pasukan Belanda demi mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.
Sebagai Komandan Brigade III/Damarwulan, Sroedji memimpin perjuangan dan pergerakan gerilya di wilayah Karesidenan Besuki. Dalam situasi perang yang sulit, pasukannya bergerak melewati sejumlah daerah di Jember untuk mempertahankan wilayah Republik Indonesia.
Perjuangan Panjang Berakhir di Karang Kedawung
Salah satu peristiwa paling bersejarah terjadi pada 8 Februari 1949. Saat itu, Sroedji dan pasukannya menghadapi serangan Belanda di Karang Kedawung, Kecamatan Mumbulsari, Kabupaten Jember.
Dalam pertempuran tersebut, Sroedji gugur bersama dr. Soebandi, sosok yang juga dikenal dalam sejarah perjuangan masyarakat Jember.
Peristiwa itu menjadi bukti bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya berlangsung di kota-kota besar, tetapi juga di desa-desa, perkebunan, dan pelosok daerah yang menjadi jalur perlawanan para pejuang.
Karang Kedawung yang sekarang berada di wilayah Kecamatan Mumbulsari, Kabupaten Jember, menjadi salah satu lokasi penting untuk mengenang pengorbanan mereka.
Dari Medan Perang Menjadi Jejak Sejarah
Perjuangan Sroedji tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Namanya diabadikan melalui patung, makam, monumen, serta nama jalan di Jember.
Patung perjuangan yang menggambarkan Sroedji dan dr. Soebandi dapat dijumpai di kawasan Jalan Hayam Wuruk, Kaliwates, Jember. Sementara itu, patung Sroedji juga berdiri di lingkungan Kantor Pemerintah Kabupaten Jember.
Makam Sroedji berada di kawasan pemakaman Kreyongan, Jember. Adapun di Karang Kedawung terdapat jejak peringatan perjuangan yang mengingatkan masyarakat pada pertempuran yang merenggut nyawa kedua tokoh tersebut.
Tempat-tempat itu menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia dibangun melalui pengorbanan manusia biasa yang berani mengambil risiko luar biasa.
Pesan untuk Generasi Sekarang
Kisah Moh. Sroedji mengajarkan bahwa keberanian bukan hanya tentang mengangkat senjata. Keberanian juga berarti tetap memegang tanggung jawab ketika keadaan menjadi sulit, mendahulukan kepentingan bangsa, dan tidak meninggalkan perjuangan ketika menghadapi ancaman.
Kini, generasi penerus tidak lagi dituntut berperang melawan penjajah bersenjata. Tantangannya berbeda: melawan kebodohan, ketidakadilan, kemiskinan, korupsi, dan sikap yang merusak persatuan bangsa.
Mengenang Sroedji berarti lebih dari sekadar mengunjungi patung atau membaca prasasti. Yang terpenting adalah menjaga nilai perjuangannya agar tetap hidup dalam tindakan sehari-hari.
Sebab, kemerdekaan bukan hanya warisan para pahlawan, melainkan tanggung jawab setiap generasi untuk menjaganya.
INDONEWS.TV — Mengabarkan peristiwa, merawat sejarah, dan menghidupkan nilai perjuangan bangsa. (@red)


