Menanggalkan Kedok Ego Dekonstruksi Nilai Aksio-Spiritual Kakawin Sutasoma dalam Realitas Modern ​

INDONEWS.TV -Surabaya- ​Ditengah gempuran kemajuan dunia digital, Harwi Mardianto, seorang seniman yang terus tak surut, menunjukkan jati dirinya, bukan melawan arus, akan tetapi memperkuat arus agar jangan sampai arus itu tergerus oleh kemanjuan teknologi, yang seharusnya bisa berkolaborasi membantu untuk kemajuan dunia seni lebih mudah dikenal di seantero jagat agar tak punah dan masih bisa dinikmati anak cucu kedepannya.

Disutradari oleh Harwi Mardianto, Pertunjukan teater bertajuk “Spektrum Sutasoma” yang dibawakan di STKW Surabaya pada Senin, 14-9-2026, menghadirkan pembacaan ulang terhadap Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular.
Pertunjukan berdurasi 26 menit 45 detik dengan penata teknis intermedial Deva Rizki Listianto, S.Sn dkk.

Tata busana dan properti Nisa. Koreografer Sri Cicik Handayani,S.Sn.M.Sn ini bukan sekadar pementasan teater klasik, melainkan sebuah kritik sosial yang tajam terhadap manusia modern yang terjebak dalam politik identitas, keserakahan, dan “topeng” (kedok) pencitraan di era digital.

​Sintesis dan Realita Pementasan
​Pementasan dibuka dengan pengagungan terhadap Sri Bajrajana (wujud kesunyataan murni) dan dilema Pangeran Sutasoma dari Hastinapura.
Sutasoma dipaksa menerima tahta dan memimpin tentara untuk memusnahkan pembangkang, tetapi ia menolak keagungan yang dibangun di atas “tumpukan tulang belulang”.

Sutasoma memilih jalan Ahimsa (anti-kekerasan) dan keluar dari istana untuk bertapa di hutan.
​Menariknya, pementasan ini menyelaraskan kisah sastra Jawa Kuno dengan satir abad ke-21 melalui tokoh-tokoh pengawal dan narrator.
​Satir Modernitas dan Media Sosial: Hutan belantara disimbolkan sebagai “hutan ego” manusia modern. Para tokoh menyindir fenomena manusia hari ini yang sibuk memakai topeng suci, dermawan, atau mkorban di media sosial demi memuaskan insting egoistik mereka.
​Uji Kasih Tanpa Syarat: Pertemuan Sutasoma dengan berbagai wujud kegelapan, termasuk raksasa kelaparan hingga Purusada (raja pemburu manusia) menunjukkan kekuatan Kasih Tanpa Syarat. Ketika diancam dimakan, Sutasoma justru menyerahkan tubuhnya jika itu bisa memuaskan kelaparan dunia.

Konsep Bhinneka Tunggal Ika :
Puncak pertunjukan terjadi saat Purusada tertunduk dan tersadar. Sutasoma menegaskan bahwa kegelapan (purusada) dan cahaya (sutasoma) sejatinya berasal dari hakikat yang sama. Perpecahan hanya terjadi karena kedok duniawi dan egoismenya masingn – masing.

​Secara tematik, lakon “Spektrum Sutasoma” menantang penonton untuk melihat kembali relevansi falsafah Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa. Pementasan ini menyentil kenyataan bahwa hari ini semboyan tersebut sering kali hanya dijadikan pajangan atau slogan Pejabat, tanpa diresapi kebenaran hakiki dimana manusia berani menanggalkan “topeng kekuasaan” demi kedamaian bersama.

​Seperti yang disampaikan pada penutup lakon: “Lakon telah usai, namun pertunjukan yang sesungguhnya baru saja dimulai.”
Pertunjukan ini mengingatkan bahwa pahlawan sejati bukanlah mereka yang sibuk membangun narasi kebaikan palsu di media sosial, melainkan mereka yang berani melumpuhkan angkara murka di dalam dirinya sendiri melalui ketulusan dan pengorbanan tanpa syarat.
(#RumahUnon official @INDONEWS.TV)

Related Posts

About The Author

Add Comment