indonews.tv – PROBOLINGGO — Cerita rakyat tak lagi sekadar tersimpan di buku atau diwariskan dari mulut ke mulut. Di Probolinggo Sae Carnival (PSC) 2026, kisah-kisah itu dibawa ke jalan, dipadukan dengan kostum, atraksi, dan kreativitas warga.
Sebanyak 17 peserta mengikuti karnaval yang digelar Pemerintah Kabupaten Probolinggo bersama EHA Production pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Pesertanya beragam, mulai dari pelajar, organisasi perangkat daerah (OPD), hingga unsur corporate social responsibility (CSR).
Masing-masing peserta tak sekadar memamerkan kostum. Mereka membawa cerita di balik penampilan. Sejumlah cerita rakyat yang diangkat antara lain Prabulinggih, Cindelaras, Ronggojalu, dan Kembang Genggong.
Karnaval dimulai dari kawasan Alun-Alun Utara Kraksaan, tepatnya di depan Rumah Dinas Bupati Probolinggo. Dari titik itu, rombongan bergerak menuju garis finis di Masjid Darus Salam, Desa Patokan, Kecamatan Kraksaan.
Sepanjang rute, budaya, adat istiadat, dan kearifan lokal dikemas dalam bentuk yang lebih kekinian. Cerita lama mendapat panggung baru, sekaligus menjadi tontonan yang lebih dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda.
Bupati Probolinggo Mohammad Haris mengatakan PSC 2026 tidak semata-mata digelar untuk hiburan. Menurut dia, karnaval tersebut menjadi salah satu cara memperkenalkan kembali kekayaan budaya daerah sekaligus memperkuat persatuan.
“Alhamdulillah, saya bahagia sekali melihat acara ini. Saya memberikan apresiasi kepada seluruh panitia yang telah menghadirkan Probolinggo Sae Carnival 2026,” ujar Haris.
Haris mengatakan Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar. Namun, tidak semua budaya lokal dikenal secara luas.
“Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki sekitar 1.340 suku dan sekitar 718 bahasa daerah. Ada budaya yang sudah dikenal secara nasional, tetapi ada juga budaya yang secara minor harus kita perkenalkan dalam acara-acara seperti ini,” kata dia.
Menurut Haris, PSC 2026 bukan panggung untuk berlomba menunjukkan kemewahan. Yang lebih penting adalah memperlihatkan keberagaman dan kebersamaan.
“Ini bukan tentang glamor, bukan tentang sesuatu yang harus kita pamerkan berlebihan. Tetapi ini adalah sebuah kebersamaan, sebuah kemajemukan yang memang harus kita sampaikan kepada masyarakat agar masyarakat bisa mengenal lebih jauh budaya Nusantara, budaya bangsa kita,” ujarnya.
Pesan persatuan itu semakin kuat karena PSC 2026 digelar dalam rangkaian momentum Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia.
“Lebih banyak suku kita, lebih banyak bahasa kita, kita mencoba merangkai sebuah kebersamaan bangsa ini dengan utuh,” tutur Haris.
PSC 2026 juga berlangsung bertepatan dengan momentum bulan Maulid Nabi Muhammad SAW. Haris berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai tontonan. Menurut dia, kemeriahan karnaval juga dapat menjadi ruang untuk menyampaikan nilai keteladanan, termasuk pentingnya saling memaafkan dan menjaga persatuan.
Ia pun menekankan bahwa tagline
“Probolinggo Sae” bukan sekadar kalimat yang disematkan dalam berbagai agenda pemerintah daerah.
Semangat itu, kata Haris, harus diwujudkan melalui kerja bersama.
“Budaya ini memberi kita akar, tetapi kreativitas memiliki sayap dan persatuan menentukan seberapa jauh kita dapat terbang,” katanya.
Karena itu, PSC 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan yang meriah. Karnaval ini menjadi ruang untuk menjaga cerita rakyat, merawat budaya lokal, sekaligus memberi panggung bagi kreativitas masyarakat Probolinggo.
“Tagline Probolinggo Sae ini tidak hanya sekadar dipetikkan setiap kali kita punya agenda. Ada satu doa dan harapan besar bahwa nama Probolinggo, kita besarkan secara bersama-sama,” ujar Haris. (Agus)


