STOP BANGUNKAN ANAK DENGAN SUARA KERAS

INDONEWS.TV – Kebiasaan orang tua membangunkan anak dengan suara keras, berteriak atau memaksa anak segera bangun ternyata perlu dipertimbangkan kembali.

Bukan semata-mata karena anak dianggap “manja” atau sulit bangun, tetapi karena beberapa penelitian tentang tidur menunjukkan bahwa **beberapa saat setelah seseorang terbangun merupakan masa transisi penting bagi otak dan tubuh.

Dalam ilmu tidur, kondisi tersebut dikenal sebagai **sleep inertia**, yaitu keadaan sementara ketika seseorang sudah terbangun tetapi fungsi otak belum sepenuhnya berada pada tingkat kewaspadaan normal.

Penelitian yang dipublikasikan dalam *Sleep Medicine Reviews* menjelaskan bahwa sleep inertia dapat ditandai dengan rasa mengantuk, disorientasi, berkurangnya kewaspadaan dan penurunan kemampuan kognitif sesaat setelah bangun tidur. Kondisi tersebut dapat berlangsung beberapa menit bahkan lebih lama, terutama apabila seseorang kurang tidur atau terbangun dari tidur yang dalam. ([ScienceDirect][1])

BUKAN BERARTI ANAK “MALAS”

Ketika orang tua melihat anak masih memejamkan mata, lambat merespons atau tampak kebingungan setelah dibangunkan, kondisi tersebut tidak selalu berarti anak sengaja bermalas-malasan.

Cleveland Clinic menjelaskan bahwa sleep inertia dapat menyebabkan seseorang mengalami **kantuk, disorientasi, sulit berkonsentrasi, lambat merespons, sulit berkomunikasi dan mudah mengalami perubahan suasana hati**. Kondisi ini lebih mudah muncul ketika seseorang dibangunkan secara tiba-tiba dari tidur yang dalam.

Karena itu, kalimat seperti:

*”Bangun! Sudah siang!”*

*”Bangun sekarang!”*

atau bahkan teriakan keras dari jarak dekat mungkin bukan cara paling ideal untuk membantu anak melewati fase transisi tersebut.

MENGAPA “SAAT BANGUN” DISEBUT MOMEN KRUSIAL?

Tidur bukan sekadar kondisi ketika tubuh berhenti beraktivitas. Selama tidur, otak tetap menjalankan berbagai proses biologis, termasuk pengaturan memori, pemulihan dan pengaturan fungsi tubuh.

Ketika seseorang terbangun, otak membutuhkan waktu untuk beralih dari kondisi tidur menuju kewaspadaan penuh.

Penelitian mengenai sleep inertia menunjukkan bahwa **cara dan waktu seseorang terbangun dapat memengaruhi tingkat gangguan sementara setelah bangun**. Terbangun secara tiba-tiba ketika berada dalam fase tidur gelombang lambat atau tidur dalam dapat menghasilkan sleep inertia yang lebih kuat dibandingkan terbangun dari tahap tidur yang lebih ringan. ([ScienceDirect][3])

Artinya, ada kemungkinan anak yang terlihat “susah bangun” sebenarnya sedang berada dalam proses neurologis untuk beralih dari tidur menuju kondisi sadar sepenuhnya.

LALU, APAKAH TERIAKAN ORANG TUA MENINGKATKAN KORTISOL ?

Di sinilah informasi perlu disampaikan secara hati-hati.

Tubuh memang memiliki “cortisol awakening response (CAR)”, yaitu perubahan kadar hormon kortisol yang terjadi setelah seseorang bangun. Penelitian menunjukkan respons tersebut juga terjadi pada anak-anak, meskipun pola dan besarnya dapat berbeda berdasarkan usia serta kondisi tidur. ([PubMed][4])

Namun, “belum tepat jika dikatakan bahwa setiap kali orang tua berteriak membangunkan anak, otomatis menyebabkan lonjakan kortisol yang berbahaya.”

Yang sudah diketahui secara ilmiah adalah bahwa proses bangun tidur memiliki komponen hormonal dan fisiologis tersendiri. Sementara itu, penelitian yang secara khusus mengukur dampak “teriakan orang tua saat membangunkan anak” terhadap kortisol anak masih terbatas.

Dengan demikian, klaim “jangan berteriak karena pasti membuat kortisol anak melonjak” sebaiknya tidak disampaikan sebagai fakta medis yang sudah pasti.

YANG LEBIH JADI PERHATIAN: KONDISI EMOSIONAL ANAK

Meski demikian, membangunkan anak dengan pendekatan yang tenang memiliki alasan praktis.

Anak yang baru bangun mungkin belum sepenuhnya siap menerima perintah, teguran, pertanyaan atau tekanan dalam jumlah banyak.

Jika suara pertama yang diterimanya adalah teriakan, anak dapat langsung memasuki situasi yang penuh tekanan secara emosional, sementara kemampuan kognitifnya masih berada dalam masa transisi dari tidur menuju terjaga.

Karena itu, pendekatan yang lebih lembut dapat menjadi pilihan yang lebih masuk akal.

### BAGAIMANA CARA MEMBANGUNKAN ANAK?

Beberapa pendekatan sederhana dapat dilakukan orang tua.

**Pertama, bangunkan secara bertahap.**

Buka tirai atau jendela agar cahaya pagi masuk. Cahaya merupakan salah satu sinyal penting bagi sistem sirkadian tubuh.

**Kedua, panggil dengan suara normal.**

Daripada berteriak dari luar kamar, orang tua dapat mendekati anak, menyebut namanya dan memberikan waktu agar anak mulai sadar.

**Ketiga, berikan jeda.**

Anak tidak harus langsung berdiri beberapa detik setelah membuka mata. Berikan kesempatan untuk duduk, minum air dan mengumpulkan kesadaran.

**Keempat, buat jadwal tidur yang konsisten.**

Kurang tidur dapat memperburuk sleep inertia. Penelitian menunjukkan bahwa kekurangan tidur sebelumnya dapat meningkatkan gangguan kewaspadaan setelah bangun. ([PubMed Central (PMC)][5])

Hal ini menjadi semakin penting pada anak dan remaja yang membutuhkan waktu tidur cukup. American Academy of Pediatrics juga telah lama menyoroti persoalan kekurangan tidur pada anak dan remaja serta kaitannya dengan perhatian, suasana hati dan performa di sekolah. ([American Academy of Pediatrics][6])

BANGUN DENGAN TENANG BUKAN BERARTI MEMANJAKAN

Ada anggapan bahwa membangunkan anak dengan lembut akan membuat anak menjadi manja atau tidak disiplin.

Padahal, **lembut dan disiplin merupakan dua hal yang berbeda.**

Orang tua tetap dapat memiliki aturan tegas mengenai waktu bangun, sekolah, ibadah, kegiatan rumah maupun tanggung jawab anak.

Yang berbeda adalah cara menyampaikannya.

Pesannya tetap:

**”Sudah waktunya bangun.”**

Tetapi tidak harus disampaikan dengan:

**”BANGUN! CEPAT! KAMU SELALU SUSAH DIBANGUNKAN!”**

Dengan demikian, disiplin tetap berjalan, tetapi proses transisi dari tidur menuju bangun tidak perlu diawali dengan tekanan suara yang tinggi.

### JANGAN LUPAKAN FAKTOR USIA

Pola tidur anak juga berbeda berdasarkan usia.

Pada masa remaja, misalnya, terjadi perubahan biologis pada sistem tidur-bangun. American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa sekitar masa pubertas terjadi perubahan ritme sirkadian yang membuat banyak remaja secara biologis cenderung tidur lebih larut dan bangun lebih lambat. ([American Academy of Pediatrics][7])

Karena itu, anak SMP atau SMA yang sulit bangun pagi tidak selalu dapat dijelaskan hanya dengan istilah “malas”.

Bisa saja terdapat kombinasi antara jam tidur yang terlalu malam, kebutuhan tidur yang belum terpenuhi dan perubahan biologis pada ritme tidur.

### KAPAN ORANG TUA PERLU WASPADA?

Jika anak secara konsisten sangat sulit dibangunkan, mengalami kebingungan berat setelah bangun, mengantuk berlebihan pada siang hari, mendengkur keras, mengalami gangguan pernapasan saat tidur atau kondisi tersebut sampai mengganggu sekolah dan aktivitas sehari-hari, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.

Sebab, kesulitan bangun yang sangat berat dan berlangsung terus-menerus tidak selalu hanya persoalan kebiasaan.

### PESAN SEDERHANA UNTUK ORANG TUA

Membangunkan anak bukan hanya soal membuat mata mereka terbuka.

Ada proses biologis yang sedang berlangsung ketika otak berpindah dari kondisi tidur menuju kondisi terjaga.

**Berikan suara yang tenang.
Berikan sedikit waktu.
Berikan cahaya pagi.
Pastikan anak mendapatkan tidur yang cukup.**

Dan yang tidak kalah penting:

**Jangan buru-buru memberi label “malas” kepada anak yang belum sepenuhnya sadar setelah baru bangun.**

Karena beberapa menit pertama setelah tidur mungkin merupakan **masa transisi penting bagi otak**, bukan sekadar waktu ketika seorang anak sedang memilih untuk bermalas-malasan. (@red)

Related Posts

About The Author

Add Comment