SATE BERACUN “MENGGIRING N A N (25) SEBAGAI TERSANGKA TEWASNYA ANAK NABA FAIZ PRAS (10)”

SATE BERACUN “MENGGIRING N A N (25) SEBAGAI TERSANGKA TEWASNYA ANAK NABA FAIZ PRAS (10)”

Ingatkah kita peristiwa pada 6 januari 2016, tepat lima tahun silam, indonesia digegerkan kabar kematian perempuan bernama Wayan Mirna salihin usai menenggak kopi yang ternyata berisi racun sianida. Wafatnya Mirna menyita perhatian publik selama sekitar 10 bulan setelah diketahui kasus itu bukan sekadar kematian biasa, melainkan pembunuhan berencana.

Dan ini terulang kembali dengan versi yang berbeda – kisah yang lagi viral sekarang ini adalah si cantik pengirim sate beracun sianida akhirnya ditangkap.
Inisialnya na (25). Na ternyata sudah merencanakan pembunuhan kepada targetnya, berinisial T sejak tiga bulan lalu. Hal itu dilakukan karena motif sakit hati.

“sudah hampir 3 bulan lalu rencana ini disiapkan (na). Motifnya sakit hati,” jelas kapolres bantul AKBP Wachyu Tri Budi Sulistyono saat konferensi pers di Mapolres Bantul, Senin (3/Mei/2021).

Ia menjelaskan bahwa awalnya pelaku na menargetkan sate yang telah dicampur racun itu ke keluarga T, tetapi salah sasaran dan menewaskan seorang anak kecil bernama Naba Faiz Prasetya (10). Adalah putra pengemudi ojol yang disuruh mengantar sate tersebut, karena sasaran awalnya diberikan ke rumah T.
Namun karena di rumah t tidak ada yang pernah memesan sate dan tak mengenal orang yang disebut Hamid Pakualaman, sate tersebut diberikan kepada driver ojol kemudian dibawa pulang dan dimakan bersama keluarganya bersama istri dan anak serta pengemudi ojol itu sempat mencicipi satu tusuk akan tetapi anaknya tak terselamatkan terang Kapolres Bantul.

Direskrimum Polda DIY, Kombes Burkan Rudy Satriya mengatakan, motifnya sakit hati karena ternyata targetnya, yakni t, menikah dengan orang lain.

Akhirnya Nani aprilia Nurjaman (25) nama asli tersangka, ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus tewasnya Naba Faiz Prasetya (10).
Nani adalah perempuan asal desa buniwangi, kecamatan Palasan, Majalengka, Jawa Barat. Ia merantau ke Bantul sejak 10 tahun yang lalu dan tinggal di dusun Cepokojajar, Kelurahan Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, daerah Istimewa Yogyakarta.
Nani berasal dari Majalengka, Jawa Barat. Ia merantau 10 tahun ke bantul setelah lulus SMP atau ketik berusia 15 tahun. Hal tersebut diungkapkan oleh M (45) ayah Nani yang tinggal di Majalengka. Kala itu nani meninggalkan Majalengka karena diajak bekerja sebagai pedagang oleh temannya. “kalau tidak salah 2014 ia berangkat kerja ke bantul setelah lulus SMP, pulang setiap lebaran. Tapi sebelum puasa (kemarin) dia sempat pulang juga,” ucapnya. M mengatakan anak perempuan adalah anak yang baik. (REDAKSI)