KENAPA SURABAYA SELALU DI NOMOR 2 KAN ? 

Pemerintah Kota Surabaya mempunyai lahan baru (lama tapi disulap) yang asik untuk kongkow dan sua foto, tempat itu adalah Balai Pemuda Kota Surabaya, yang diresmikan Walikota Surabaya Tri Rismaharini tepat di Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), Alun-alun Surabaya yang berada di Kompleks Balai Pemuda, Jalan Gubernur Suryo. Kompleks Alun-alun Surabaya tersebut, difungsikan sebagai wadah kegiatan para penggiat seni dan budaya di Kota Pahlawan., yang sekarang disebut dengan sebutan  Alon-alon Suroboyo. Sudah lama team INDONEWS.TV melakukan survey, dari Jakarta, Bandung, Jogja, Malang, Semarang dll, bahwa kenapa Surabaya memulainya lama sekali. Jakarta banyak spot foto, Bandung ada Jalan Braga dan lain-lain, demikian juga Semarang ada Simpang Lima, semuanya memulainya sudah lama sekali, sedangkan Surabaya menurut survey INDONEWS.TV belum terlalu lama dilaksanakan, terutama di zaman kepemimpinan Risma Harini, Walikota, pembangunan taman dan tempat swa foto bertebaran di pelosok Surabaya.

Ketika saya masih mengelola Sekolah Model/Talent, sering muncul pertanyaan, mengapa kita tidak seperti Jakarta Ya ? “kata Bram Hayomi” yang sekarang exis sebagai Pimred di INDONEWS.TV. prototype itu melekat dibenak arek-arek suroboyo, bahwa mereka akan kalah jika disandingkan dengan orang Jakarta. Lanjut “Bram” yang juga seorang Pengacara ini. Tapi itu dulu, sekarang Surabaya akan menjadi kota MEGAPOLITAN.

Zaman sudah berubah, era kini era digitalisasi, orang yang masih bermain-main di dunia analog akan musnah tergerus zaman, Seniman yang masih berharap dapat tanggapan dengan cara seperti dulu akan termakan dengan promosi digital, caranya pun sekarang sudah banyak perubahan, maka pekerja seni juga harus tanggap akan hal ini (tidak gagap teknologi)

Dalam sambutannya, Risma mengatakan, sebetulnya bangunan Alun-alun Surabaya baik plaza atas maupun bawah, ditargetkan selesai pada November 2020. Namun, karena ia ingin agar ini segera bermanfaat, maka bertepatan di Hari Kemerdekaan ini bangunan plaza atas diresmikan.
“Kalau sekarang anak-anak bisa dia pentas di situ, ludruk juga bisa pentas di situ, itu kan sangat bagus. Misalkan ada tamu dia ingin lihat ludruk, ingin lihat wayang orang atau srimulat itu bisa terjadwalkan dengan adanya plaza itu. Terus anak-anak juga bisa berkumpul di situ,” kata Risma yakin.
Sejak awal menjabat sebagai Walikota Surabaya, dia mengaku bercita-cita ingin membuat wadah atau ruang khusus bagi para penggiat seni dan budaya di Kota Pahlawan. Karenanya, wali kota perempuan pertama di Surabaya itu kemudian berinisiatif sendiri merancang konsep bangunan alun-alun tersebut.
“Akhirnya saya coba gambar sendiri dan Alhamdulillah bisa ketemu (konsepnya),” ungkap dia.

 “Saya setuju karena sekarang masyarakat ingin hiburan, harus diteruskan seperti di THR (Taman Hiburan Rakyat) zaman dahulu, kalau ada ketoprak, ludruk, wayang, ya senang,” kata Cak Kartolo saat ditemui di akhir acara yang juga hadir sebagai Legenda Kota Suroboyo.

Hal yang sama juga diungkapkan Luhur Kayungga Sekjen Dewan Kesenian Surabaya “Surabaya harus bisa menjadi tolak ukur kesenian Indonesia seperti jaman keemasannya dahulu, banyak seniman yang muncul dari Kota ini, baik dari musik ataupun dunia seni peran,kita ingat ada Ratno Timur (film), Bumerang (Band), Padi (Band) dan lain-lain yang masih masih banyak kalo kita mau sebutkan satu persatu”  ditemui ketika melihat latihan anak-anak dari sanggar tari dan seni asuhan Dewan Kesenian Kota Surabaya, di bilangan Pusat Kota. (MIC) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *